Published 02 Februari 2026

Reformasi Pasar Modal Indonesia: Dari Pengunduran Diri Pimpinan OJK hingga Aturan Free Float 15%

Artikel

Pasar modal Indonesia sedang berada di titik persimpangan penting.

 

Dalam hitungan hari, nilai pasar saham Indonesia anjlok sekitar USD 80 miliar, diikuti pelemahan tajam IHSG dan tekanan jual besar dari investor asing.

 

Pemicu utamanya:

  • Peringatan dari penyedia indeks MSCI yang menyoroti rendahnya transparansi kepemilikan dan free float di sejumlah saham Indonesia,

  • Ancaman penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market,

  • Serta langkah mengejutkan berupa pengunduran diri beberapa pejabat puncak otoritas dan bursa, termasuk pimpinan OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

 

Di tengah gejolak tersebut, regulator dan pemerintah merespons dengan paket reformasi yang cukup agresif: mulai dari rencana kenaikan free float minimum menjadi 15%, percepatan demutualisasi bursa, hingga pelonggaran batas investasi saham bagi dana pensiun dan asuransi menjadi 20%.

 

Sentimen Pasar: Negatif di Awal, Tapi Bisa Jadi Momentum Reformasi

Menanggapi hal tersebut, Jeffrosenberg Chen Lim, Head of Research, Maybank Sekuritas memberikan pernyataan riset:

"Kami meyakini bahwa pasar kemungkinan akan merespons pengunduran diri lima pimpinan OJK dengan ketidakpastian dan banyak tanda tanya pada awalnya. Hal ini berpotensi menjadi katalis negatif jangka pendek di tahap awal.

 

Namun, perkembangan ini juga berpeluang dipandang sebagai bagian dari reformasi struktural yang diperlukan untuk membangun pasar saham yang lebih kredibel. Sejumlah klien institusi tetap optimistis bahwa ini justru menandai momentum yang tepat menuju pasar saham yang lebih sehat.

 

Kami memperkirakan pemerintah akan menunjuk pimpinan sementara (acting chiefs) paling lambat awal pekan depan dan mulai membentuk panitia seleksi. Setelah itu, Presiden akan menyusun daftar pendek kandidat dan mengajukannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).

 

Kecepatan pemulihan optimisme pasar akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk menunjuk pimpinan yang kredibel dan menyampaikan peta jalan (roadmap) reformasi yang jelas dan komprehensif untuk mewujudkan pasar modal yang lebih sehat.

 

Kami juga menilai bahwa otoritas perlu mengelola rencana penerapan ketentuan free float minimum 15% ini secara hati-hati serta memberikan waktu transisi yang memadai bagi korporasi untuk menyesuaikan diri."

 

Apa Itu Kenaikan Free Float 15% dan Mengapa Penting?

Diambil dari berita salah satu media di Indonesia, salah satu poin paling disorot dari paket reformasi adalah rencana menaikkan batas minimal free float saham publik:

  • Dari sekitar 7,5% menjadi 15%,

  • Diterapkan segera untuk IPO baru,

  • Disertai masa transisi dan mekanisme exit policy bagi emiten lama yang tidak memenuhi ketentuan.

 

Bagi investor, kenaikan free float ke 15% diharapkan membawa beberapa dampak positif:

  • Likuiditas lebih baik
    Saham dengan porsi publik yang lebih besar cenderung memiliki spread yang lebih tajam dan volume yang lebih stabil, sehingga lebih mudah masuk-keluar posisi, terutama untuk institusi besar.

  • Mengurangi potensi “saham gorengan”
    Salah satu kritik MSCI adalah maraknya saham dengan free float kecil dan kepemilikan terkonsentrasi, yang rentan dimanipulasi atau “digoreng”.

  • Mendukung kelayakan indeks global
    Standar free float yang lebih tinggi sejalan dengan praktik banyak pasar global dan menjadi salah satu syarat agar bobot Indonesia di indeks MSCI tidak terus tertekan.

 

Namun, Jeff mengingatkan bahwa aturan ini perlu diimplementasikan secara hati-hati, dengan waktu transisi yang cukup bagi emiten, agar tidak memicu tekanan jual baru yang tidak perlu.

 

Share